Sepakbola Rusia yang Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata

Kompetisi ini merupakan kompetisi dalam bentuk turnamen yang diikuti oleh klub-klub asal Rusia. Selasa (28/2) akan digelar pertandingan pertama babak perempat final Russian Cup antara Ural Yekaterinburg melawan FK Krassnodar.
Meskipun bukan tergolong negara dengan kekuatan tradisional di sepak bola, Rusia yang berperingkat 61 dunia per 9 Ferbuari tidak dapat dipandang sebelah mata. Lolosnya tim Beruang Merah ke semifinal Piala Euro 2008 di bawah kendali meneer Guus Hiddink merupakan sinyal positif perkembangan sepak bola di sana. Tumpukan salju yang mulai mencair di sekitar Moskow pertanda bahwa kompetisi akan segera dimulai kembali. Berikut ini kami berikan 5 alasan mengapa kalian perlu menonton kompetisi sepak bola di Rusia.
Kaya akan sejarah dan perang kelas
Selaiknya Marx yang meniscayakan perang kelas secara terus menerus demi persebaran kapital yang lebih merata, kompetisi di Rusia juga erat kaitannya dengan peperangan antar kelas. Resmi digulirkan sejak 1936, sistem liga di Rusia (dahulu Uni Soviet) sempat menggunakan sistem liga musim semi dan liga musim gugur, mirip dengan apa yang ditunjukkan di model kompetisi Apertura dan Clausura.
Walaupun bertitel liga nasional, pada musim-musim awal, liga teratas diisi oleh klub-klub di sekitar Moskow dan St. Petersburg menngingat kompetisi ini dikembangkan dari Piala Tosmen yang mempertemukan 2 tim terbaik dari kompetisi 2 ibukota tersebut. Sejumlah klub tradisional ambil bagian di tahun-tahun awal liga digulirkan, Spartak, Dinamo, Lokomotiv, CSKA, dan Torpedo bersaing untuk meraih gelar sebagai klub terbaik di seantero Soviet.
Sebagai negara komunis, tak asing jika mayoritas kepentingan publik diatur dan diberi sarana oleh negara. Di bawah kekuasaan Stalin, dibentuklah sejumlah komunitas olah raga baik yang ada di tingkat Soviet Republik maupun di tingkat nasional. Para buruh pabrik pengalengan daging di Moskow berserikat dan membentuk klub dengan nama Spartak. Hal yang sama terjadi di daerah lain dan terbentuklah aliansi komunitas olah raga Spartak.

Tidak hanya buruh, beragam jenis profesi, latar belakang kesukuan, serta kesatuan di pemerintahan juga ikut membangun komunitas olah raga mereka sendiri. Sebutlah CSKA atau SKA yang beranggotakan Tentara Merah Soviet; Lokomotiv yang didirikan para pekerja kereta api; Zenit yang dibentuk perusahaan pertahanan udara, begitu pula dengan komunitas olah raga Krilya Sovetov maupun Rotor. Burevestnik yang beranggotakan pelajar dan pengajar sekolah menengah ataupun Trudovye Rezervy yang dibentuk pelajar sekolah vokasional juga ikut meramaikan gelaran olah raga di Soviet, tidak hanya sepak bola.
Cerita agak berbeda ditunjukkan oleh komunitas olah raga Dinamo yang dibentuk di tahun 1923 oleh Felix Dzherzhinsky. Bernama Dinamo bukan berarti komunitas olah raga ini didirikan para pekerja pembangkitan listrik. Beberapa tahun setelah kemunculannya, NKVD (polisi rahasia Soviet) di bawah komando Lavrentiy Beria secara resmi mengambil alih kepemilikan dan manajerial komunitas sepka bola Dinamo. Jadilah seluruh klub dengan nama Dinamo di seantero Eropa memiliki keterkaitan dan bahkan disponsori polisi rahasia.
Beria yang cinta akan sepak bola sangat berhasrat menjadikan Dinamo Moskwa sebagai klub terkuat di Uni Soviet, bahkan Eropa Timur. Beragam intrik dilakukan agar menjaga superioritas Dinamo atas klub-klub lain. Spartak Moskwa yang saat itu menjadi klub terkuat, juga tak lepas dari intrik Beria. Dari pembatalan pertandingan sampai pemenjaraan atas tuduhan makar pernah dialami. Begitu pula dengan Eduard Streltsov, legenda Torpedo yang pernah dihukum gulag 12 tahun akibat menolak bergabung dengan Dinamo.
Jadilah komunitas Dinamo terutama Dinamo Moskwa sebagai komunitas olah raga yang paling dibenci di masyarakat. Namun tak hanya perang Spartak dan Dinamo yang mengundang decak kagum, haru, dan tangis. Hampir seluruh pertandingan antar klub yang masih memegang nama komunitas olah raga eks-Soviet berlangsung seru. Karena meskipun tautan antar klub anggota komunitas telah lama melemah, beban dan gengsi sejarah antar komunitas masih cukup melekat.
Salah satu liga terbaik di Eropa
Bertengger di posisi 6, Liga Primer Rusia sejajar dengan Liga NOS Portugal dengan 2 wakil di Liga Champions. Tergesernya posisi Liga Primer Ukraina ke posisi 8 juga merupakan sinyalemen adanya perubahan positif yang terjadi di Rusia. Sebagai kompetisi terbaik di Eropa Timur, memang masih cukup minim prestasi klubpeserta RFPL di tingkat UEFA.
Baru Zenit yang berhasil menjuarai Piala UEFA dan Piala Super UEFA di tahun 2008. Sementara kompatriotnya, CSKA, menjadi klub Rusia pertama dengan prestasi di Eropa dengan menjuarai Piala Eropa di musim 2004/2005 setelah mengalahkan wakil Portugal, FC Porto, 3-1. Bukti lain berkembangnya sepak bola Rusia menjadi lebih kompetitif dan menarik adalah penampilan wakil-wakil mereka di kompetisi Eropa yang kerap menggigit. Oke, lupakan sejenak penampilan malas-malasan ala CSKA di Liga Champions. Tapi lihatlah penampilan ciamik Zenit yang menjadi peserta tetap babak knock-off, meskipun musim ini harus angkat koper terlebih dahulu usai kalah dari Anderlecht RSC lewat gol tandang.

Penampilan Krasnodar yang baru bermain di 3 edisi Europa League juga tidak bisa dianggap remeh. Anak asuh Igor Shalimov berhasil memperbaiki rekor di setiap musimnya. Hanya bercokol di posisi 3 grup di musim perdananya, Krasnodar kini lolos ke babak 16 besar bermodalkan kemenangan atas wakil Turki, Fenerbahe. Juga jangan lupakan si fenomena dari selatan, FK Rostov. Rostov yang tampil secara ajaib menjadi juara 2 RFPL musim lalu juga akan menemui Manchester United setelah mengempaskan Slavia Praha 5-1 di babak 32 besar.
Kawah Candradimuka pesepak bola
Status Rusia sebagai kompetisi level 2 di Eropa tidak lantas membuat liga berjalan monoton dan membosankan. Dengan kekuatan uang, klub-klub seperti Anzhi Makhachkala dan Zenit St. Petersburg bisa memboyong talenta terbaik dunia untuk datang dan bermain di Rusia. Sebut saja Samuel Etoo, Roberto Carlos, Alex Song, Hulk, serta Axel Witsel yang pernah menginjakkan kaki di kompetisi tertinggi Rusia.
Sementara hal itu bermakna klub yang tidak memiliki kekuatan kapital besar mengalami kesusahan mendatangkan nama-nama besar, tidak berarti kompetisi Rusia sepi dari talenta berbakat. Malahan, kompetisi Rusia menjadi batu loncatan pemain-pemain muda sebelum terjun ke kompetisi Eropa Barat yang lebih bergelimang dolar.
Sejumlah nama besar, baik lokal maupun internasional pernah diorbitkan tim-tim asal negeri vodka itu. Igor Korneev, Dmitri Galyamin, Andrei Mokh, serta Dmirtri Kuznetsov pernah diboyong pelatih Ljubomir Petrovi di tahun 1991 ke Srria, markas Espanyol sebelum pindah ke Llus Companys. Di tahun-tahun yang lebih baru, Ivica Oli, Ji Jarok, Milo Krasi, dan J sempat menikmati beberapa musim di Moskow sebelum melanjutkan karir di Eropa Barat. Penampilan apik Rusia di gelaran Euro 2008 juga membawa Andrey Arshavin, Roman Pavlyuchenko, Yuri Zhirkov, dan Diniyar Bilyaletdinov dikontrak klub-klub Inggris. Liga Rusia menawarkan kesempatan yang besar bagi para pesertanya dan selalu menarik ditunggu.
Sarana belajar Bahasa Rusia
Lebih mirip alasan yang mengada-ada, bukan? Tidak. Ini serius. Mendengarkan komentator bola, pengumuman di lapangan, dan bahkan iklan di jeda pertandingan bisa menjadi sarana yang mudah dan murah meriah untuk membiasakan diri dengan Bahasa Rusia.
Seperti bayi yang belajar berbahasa, mendengar dan berusaha memahami kosa kata merupakan pelajaran pertama dan merupakan titik penting yang tidak boleh terlewat. Sebelum belajar membaca huruf kirilik serta menuliskannya di secarik kertas, ada baiknya lebih dahulu membuat telinga dan otak kita familiar dengan kosa kata dalam Bahasa Rusia.
Menjadi anti-mainstream
Ketika sepak bola telah menjadi fenomena global dan bisa menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat, ia tak lagi hanya sekadar obrolan lapangan. Hal-hal di balik layar kerap kali menjadi isu yang laik diperbincangkan serta menarik untuk ditelisik. Skandal transfer, perilaku pemain di luar lapangan, sponsor, hingga instri dan pacar bintang lapangan hijau (wags) menjadi konsumsi sehari-hari kita.

Di era sepak bola modern yang dipenuhi uang, sepak bola tak hanya melulu soal kalah-menang maupun untung-rugi klub. Lebih dari itu, sepak bola menjadi sebuah identitas yang melekat dan bernilai tinggi. Tak jarang demi menjaga identitas dan kebanggaan tak kasat mata itu harus berakhir dengan kematian tragis.
Di tengah maraknya pengasosiasian diri terhadap klub-klub tertentu dengan beragam alasan, muncul sekelompok orang yang berusaha tampil beda. Seperti halnya membeli jersey dengan nomor punggung dan nama yang unik, mereka ingin tampil dan terlihat berbeda ekstremnya mencolok di tengah masyarakat sepak bola. Munculnya front-front pendukung klub yang kurang terkenal kecuali kita bermain gim Football Manager adalah salah satu buktinya.
Dan kompetisi sepak bola Rusia menawarkan hal tersebut. Bukan merupakan liga utama Eropa namun tetap dipandang kuat oleh lawan di kompetisi benua biru, sejumlah klub memiliki sejarah, pemain, serta kekayaan yang cukup bisa dijadikan alasan untuk menjadi penggemar anti-mainstream. Sebutlah klub bergelimang harta seperti Zenit dan Spartak atau kekuatan baru Krasnodar dan runner up musim lalu, Rostov yang menggebrak Eropa.
Maka bukan hal yang mustahil jika di tahun-tahun ke depan muncul sejumlah front dan akun fanbase yang mendukung klub peserta RFPL maupun FNL untuk menyaingi fanbase CSKA Moskwa yang terlebih dahulu hadir.
Jadi, gimana? Yakin masih mau memandang kompetisi Rusia sebelah mata? Yakin ga mau menontonnya?

spiritquestdojo.org wap sbobet Sumber: Supersoccer.co ID