Peluang Medali dari Panahan: Mumpung Ika Yuliana Tak Sendirian

Jakarta – Pemanah Ika Yuliana Rochmawati tak sendirian tampil di cabang olahraga panahan Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Di sektor putra: Riau Ega Agatha Salsabila dkk. juga lolos ke Rio. Untuk ketiga kalinya Ika akan tampil di olimpiade. Dengan dua pengalaman sebelumnya, Ika digadang-gadang bisa tampil lebih baik dan pulang tak dengan tangan kosong. Toh saat tampil di London 2012, Ika bisa memperbaiki penampilan dengan lolos ke babak 16 besar. Sementara saat tampil di Beijing pada tahun 2008, Ika yang waktu itu tampil bersama-sama Rina Dewi Puspitasari sudah tersingkir di babak pertama. Harapan besar sempat disemakan kepada Ika yang tampil bagus dalam turnamen-turnamen persiapan ke Olimpiade London. Namun, Ika tersingkir di babak 16 besar karena terganggu oleh hal nonteknis. Ika gagal menjaga konsentrasinya ketika tiba-tiba dia menarik perhatian media setelah menjejak babak 16 besar. Kini harapan lebih besar diberikan kepada Ika. Namun, ada faktor yang bisa bikin Ika lebih rileks. Panahan tak cuma bertumpu kepada nomor perorangan putri. Angin segar didapapatkan saat Riau Ega menembus partai final babak playoff nomor recurve perorangan putra di Kejuaraan Dunia Panahan di Kopenhagen, Denmark, pada akhir Juli 2015. Baca juga: Ayo, Bawa Pulang Emas dari Rio! Dalam perjalanannya, PP Perpani berhasil meraih medali emas di Antalya Archery Club Field, pada pertengahan Juni tahun ini lewat nomor tim recurve putra: Riau Ega, M. Hanif Wijaya, dan Hendra Purnama. Di partai final mereka mengalahkan timnas Prancis 6-0. Berbagai persiapan pun terus dilakukan PP Perpani setelah berhasil menggenggam tiket olimpiade. Latihan digeber di Jakarta hingga Yogyakarta. Saat latihan di Yogyakarta para pemanah digeber akurasinya dengan kondisi Pantai Parangtritis yang berangin dan hujan. Selain itu mereka juga dipanggungkan di Candi Prambanan tanpa pengamanan khusus, kecuali pada area tembakan. Barisan pelatih berharap mereka tak demam panggung dengan penonton yang tak bisa diduga reaksinya. Dengan persiapan tersebut, PP Perani berharap besar sejarah bisa dibuat dari panahan lagi sejak 28 tahun lalu. Ya, panahan telah membuat sejarahnya sebagai penyumbang medali pertama buat Indonesia di olimpiade. Trio srikandi yang diperkuat Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani, memperoleh perak di Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan. “Kami berharap anak-anak bisa mengembalikan kejayaan seperti waktu dulu. Ya, minimal dari tiga nomor yang lolos ini bisa bawa pulang medali,” ujar Sekretaris Jenderal PP Perpani, Alman Hudrie. “Kami berharap di perorangan recurve Ika bisa berbicara banyak, begitu pula dengan Riau Ega. Masalah medali emasnya ya kami serahkan kepada Tuhan,” sambung Alman. Alman menambahkan, terget itu masih realistis mengingat hasil perolehan skor atletnya pada beberapa kejuaraan terakhir yang diikuti, seperti Piala Dunia Panahan Seri I di Shanghai, 26 April- 1 Mei, turnamen di Bangkok, dan terakhir di Antalya, Turki. Hasilnya, pencapaian para pepanah Indonesia tidak jauh dengan mereka yang masuk 10 besar dunia. Penampilan Ika juga cukup meyakinkan belakangan ini. Pemanah dari Bojonegoro, Jawa Timur itu pernah mengalahkan pemanah terbaik di dunia, Ki Bo-Bae dari Korea Selatan, dan pernah mengalahkan peraih medali perak Kejuaraan Dunia, Aida Roman dari Meksico. “Saya mewakili atlet panahan yang akan berangkat ke Rio agar kami bisa sukses dan lancar ke depannya dapat meraih medali emas,” harap Ika. (mcy/fem)

Sumber: Sport Detik